Berita

Trauma Abu Anak Krakatau: Warga Bandar Lampung Soroti Lambatnya Informasi dan Kesiapan Darurat

Penulis: Ujang Trisno Terbit: 02 November 2026, 12:09 WIB
Trauma Abu Anak Krakatau: Warga Bandar Lampung Soroti Lambatnya Informasi dan Kesiapan Darurat

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyelimuti sejumlah wilayah Bandar Lampung pada September 2026 masih meninggalkan pengalaman buruk bagi sebagian warga. Bukan hanya debu yang mengganggu aktivitas, tetapi juga ketidakpastian informasi saat abu mulai turun. Mugiyono, warga Bandar Lampung, mengaku khawatir aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat dan abu vulkanik menyebar hingga ke permukiman. Kekhawatiran itu muncul setelah keluarganya sempat terpapar abu ketika berada di jalan tanpa mengetahui sumbernya.

"Anak saya dan keluarga yang lain waktu di jalan tiba-tiba ada abu. Mereka tidak tahu itu abu apa. Beberapa jam kemudian baru ketahuan informasi bahwa itu debu Krakatau," kata Mugiyono kepada awak media, Senin (2/11/2026). Menurut dia, keterlambatan informasi membuat warga kesulitan mengambil langkah perlindungan. Padahal, tidak semua masyarakat selalu mengakses media sosial atau membaca berita melalui telepon genggam. "Tidak semua orang membuka media sosial, tidak semua orang membaca berita, dan tidak semua orang pegang HP setiap saat," ujarnya.

Trauma dan Keterbatasan Perlengkapan

Keluhan serupa disampaikan Kanita, warga Bandar Lampung lainnya. Ia mengaku masih trauma dengan abu vulkanik yang saat itu terus mengotori rumah dan membuatnya takut beraktivitas di luar. "Trauma, masih. Debunya seperti tidak hilang-hilang. Saya sampai merasa terganggu saat bernapas lebih dari dua minggu dan pusing. Semua lubang angin di rumah ditutup," kata Kanita. Ia juga mengingat anaknya sempat berada di luar rumah ketika abu turun. Situasi itu membuatnya khawatir karena keluarga tidak memperoleh informasi lebih awal mengenai sebaran abu.

Bagi Kanita, persoalan saat kejadian bukan hanya abu yang menyebar, melainkan kesiapan warga menghadapi dampaknya. Ia mengaku kesulitan mendapatkan masker ketika masyarakat ramai-ramai mencari perlindungan. "Orang-orang sampai sakit, mau mencari masker saja susah. Kenapa tidak cepat dibagikan? Warga sampai berjubel antre membeli masker," ujarnya. Kanita juga mengingat aktivitas sekolah anak-anak sempat terganggu. Ia berharap pemerintah dapat menyampaikan peringatan lebih cepat sekaligus memastikan perlengkapan perlindungan tersedia ketika kondisi darurat terjadi.

Usulan Jalur Informasi yang Lebih Inklusif

Sementara itu, Mugiyono menilai penyebaran informasi tidak seharusnya hanya mengandalkan media sosial. Pemerintah perlu menggunakan jalur komunikasi yang menjangkau warga hingga lingkungan terkecil. Ia mengusulkan informasi disampaikan melalui ketua RT, grup komunikasi pemerintahan, hingga pengeras suara masjid apabila situasi mendesak.

Data Cyber Indonesia menilai bahwa persoalan yang dihadapi warga Bandar Lampung ini mencerminkan kesenjangan antara ketersediaan data dan aksesibilitas informasi di tingkat komunitas. Dalam perspektif keamanan informasi dan tata kelola kebencanaan digital, sistem peringatan dini seharusnya tidak hanya berhenti pada data teknis dari PVMBG atau BMKG, tetapi juga mampu menjangkau masyarakat melalui kanal yang benar-benar mereka gunakan sehari-hari. Integrasi antara sistem informasi kebencanaan, jaringan komunikasi komunitas, dan literasi digital warga menjadi kunci agar peringatan tidak terlambat dan korban jiwa dapat diminimalkan.

#Literasi Digital #Anak Krakatau #Abu Vulkanik #Bandar Lampung #Mitigasi Bencana #Peringatan Dini #Kesiapan Darurat #Tata Kelola Informasi

Artikel Terverifikasi

Artikel ini terdaftar resmi di Data Cyber Indonesia.

DCY-ART-2026-093 Verifikasi keaslian →
← Kembali ke daftar artikel