Ancaman Baru: Agen AI Otonom Bobol 1.200 Website, Modal Hanya Rp 90 Juta
Studi kasus penggunaan agen AI (Cairn, DeepSeek, Claude) untuk peretasan otomatis menunjukkan lompatan besar dalam lanskap ancaman siber global.
Lanskap keamanan siber global kembali memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Sebuah laporan terbaru mengungkap bagaimana seorang peretas berbahasa Mandarin berhasil membobol lebih dari 1.200 situs web perusahaan besar hanya dengan perintah singkat. Yang membuatnya mengejutkan, peretasan ini dilakukan hampir sepenuhnya secara otomatis oleh agen kecerdasan buatan (AI).
Daftar Isi
- Latar Belakang: Ketika Hacker "Mempekerjakan" AI
- Cara Kerja Serangan Otonom
- Dampak dan Skala Serangan
- Teknologi di Balik Layar
- Respons Perusahaan Korban
- Kesimpulan: Era Baru Ancaman Siber
Latar Belakang: Ketika Hacker "Mempekerjakan" AI
Snorre Fagerland, peneliti ancaman utama dari perusahaan keamanan siber NorForge, mengungkap aktivitas ini setelah menemukan sebuah platform AI sumber terbuka bernama Cairn yang digunakan untuk kegiatan peretasan. Menurut laporannya, aksi tersebut dimulai pada 25 September 2026. Peretas hanya memberikan instruksi singkat dalam bahasa Mandarin—kurang dari 100 karakter—untuk mengarahkan agen AI menjalankan serangan.
Cara Kerja Serangan Otonom
Agen AI tersebut bekerja secara mandiri. Dalam salah satu kasus, agen AI gagal menemukan kelemahan pada aplikasi publik sebuah perusahaan besar. Alih-alih menyerah, agen tersebut kemudian menelusuri catatan digital untuk menemukan infrastruktur terkait, mengidentifikasi panel kendali yang terbuka ke internet, lalu mengeksploitasi kelemahan dalam pemrosesan data agar server menjalankan perintah berbahaya. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 23 jam untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan secara otomatis.
Dampak dan Skala Serangan
Hingga pekan lalu, agen-agen AI tersebut telah mencoba membobol lebih dari 1.200 situs di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Jepang. Sejumlah korban di antaranya adalah produsen alat pertanian Deere, perusahaan peralatan rumah tangga SharkNinja, dan produsen mesin Cummins. Fagerland memperkirakan aksi tersebut menghabiskan sekitar US$5.000 (sekitar Rp 90 juta) untuk penggunaan token AI, atau sekitar US$50 (Rp 902 ribu) untuk setiap peretasan yang berhasil. Biaya ini sangat murah dibandingkan dengan potensi kerugian yang ditimbulkan.
Teknologi di Balik Layar
Sistem yang digunakan diduga memanfaatkan kombinasi teknologi DeepSeek asal China dan Claude Code dari Anthropic. Kombinasi ini memungkinkan agen AI untuk memahami konteks, merencanakan langkah, dan mengeksekusi perintah dengan presisi tinggi. Fagerland mengaku sebelumnya memperkirakan agen AI untuk peretasan masih membutuhkan pengawasan manusia. Namun, temuan tersebut menunjukkan teknologi itu telah berkembang melampaui perkiraannya. "Ini bukan sesuatu yang mudah untuk menemukan solusinya. Ini bukan pekerjaan peretas amatir," kata Fagerland.
Respons Perusahaan Korban
Deere mengatakan bahwa perusahaan telah mengambil langkah perbaikan yang diperlukan dan tidak menemukan indikasi bahwa informasi sensitif telah diakses. SharkNinja menyebut serangan menyasar situs terpisah yang hanya memuat informasi dukungan produk dan ancamannya telah dikendalikan. Sementara itu, Cummins menyatakan sedang menyelidiki laporan dugaan serangan siber terhadap situs yang dioperasikan salah satu vendor pihak ketiganya.
Kesimpulan: Era Baru Ancaman Siber
Temuan ini menambah kekhawatiran mengenai kemampuan agen AI otonom yang dapat menemukan kerentanan, menjalankan penyusupan, hingga berpotensi mencuri data tanpa perlu diarahkan manusia pada setiap tahap. "Perkembangan di bidang ini sungguh mencengangkan," pungkas Fagerland. Bagi organisasi di Indonesia, ini menjadi pengingat penting bahwa pertahanan siber tidak lagi cukup hanya mengandalkan patch rutin, tetapi juga harus mempertimbangkan ancaman yang digerakkan oleh AI otonom.
Artikel Terverifikasi
Artikel ini terdaftar resmi di Data Cyber Indonesia.
DCY-ART-2026-005
Verifikasi keaslian →